Lama tak jumpa rasanya, setelah berbagai kesibukan dan aktifitas seminggu lalu. Senang rasanya bisa menulis kembali dan berbagi bersama teman-teman. Postingan kali ini tentang review sebuah novel terbitan dari Kaifa Mizan dan sedikit jadul. hehe
Ini dia wujud bukunya! Maaf agak seusah nyari gambar cover-nya. hhe
Judul buku : Isyarat-isyarat Cinta
Penulis : Jean Ferris
Penerbit : Kaifa Mizan (2003-an)
Buku yang terbit sekitar tahun 2002/2003 ini meraih penghargaan sebagai ALA Best Book For Young Adults. Pantas rasanya jika buku ini meraih pernghargaan seperti itu karena cerita yang ada tak hanya menarik dan bagus untuk diikuti, tetapi juga memberi banyak pelajaran. Bagi beberapa orang yang kenal denganku mungkin akan sedikit terkekeh ketika melihatku membaca, menenteng atau memajangnya di rak buku. Tapi biarlah, toh memang judulnya saja cukup untuk membuat tertawa kecil jika lelaki membacanya. Tapi kesampingkan itu cerita lama, kini kita langsung kupas tuntas bukunya.
Pasti ada banyak pertanyaan soal buku ini kan?? (kepedean)
Ceritanya berpusat pada sepasang remaja tanggung yang bisa dibilang normal seperti remaja lainnya namun juga bisa dikatakan luar biasa. Theo dan Ivy adalah remaja yang memiliki kemampuan untuk berbicara normal namun juga berbahasa isyarat. Mereka merupakan satu-satunya anggota keluarga yang tunarungu. Mereka berdua adalah penyambung lidah dan kehidupan bagi masing-masing keluarganya.
Theo yang menyayangi ayah dan adik-adiknya ternyata cukup untuk dibuat kesal oleh ibunya. Sedangkan Ivy yang menjadi satu-satunya penerjemah ayahnya malah menikmati kelebihannya itu. Theo mengagumi Ivy di sekolah maupun di luar. Namun bahasa isyarat membuat Theo cukup enggan untuk mendekati gadis tersebut. Sampai satu ketika mereka akhirnya berkenalan dan menjalin hubungan cukup dekat.
Hubungan mereka bisa dibilang sebuah wahana "halilintar" yang bisa membuat dada bergejolak. Bagi mereka hubungan itu lebih dari sekedar hubungan normal lainnya. Ketika remaja lainnya hanya pergi jalan-jalan, ke mall, nonton atau melakukan hal lain yang lebih menyenangkan. Berbeda dengan Theo dan Ivy, mereka harus membina hubungan juga harus berbagi kesenangan dengan masing-masing keluarganya.
Konflik batin mulai terjadi ketika Palma (ibunya Theo) harus rela berjuang sendirian untuk keluarganya setelah ayahnya Theo meninggal. Berat bagi Theo yang ketika itu hendak memutuskan untuk pergi melanjutkan kuliahnya karena harus memperjuangkan keluarganya. Belum lagi hubungannya dengan Ivy yang selalu mendorong Theo untuk maju mengejar cita-citanya. Keputusan yang sungguh berat untuk Theo mengingat Palma begitu bergantung padanya. Tapi dengan penuh keteguhan dan keteduhan, Ivy terus membujuk Theo untuk tidak melupakan mimpinya semata.
Di tengah keterbatasan dan keluarbiasaan lingkungan mereka, Theo dan Ivy mampu membagi kasih sayang satu sama lain dengan keluarganya. Di tengah tekanan keluarga yang cukup membuat pikiran tersita, Theo masih bisa berusaha untuk menjadi orang normal dan meyakini cita-citanya.
Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan
Kamis, 14 Juli 2011
Minggu, 03 Juli 2011
There's always another chances!!
![]() |
| Time, always give you another chances |
Inilah yang namanya kehidupan. Semuanya berputar, tak ada yang statis. Tuhan saja menciptakan tata surya dengan perputaran yang sudah diatur secara presisi. Matahari, serta planet-planet yang mengekornya juga berputar. Lalu kenapa kita berharap bahwa apa yang sedang kita lalui ini harus diam? Padahal sudah jelas semuanya ada perputaran.
Bayangkan jika apa yang sekarang kita lalui ini harus diam tak ada pergerakan. ^^ Rasanya setiap orang akan berkoar-koar bahwa hidup itu tidak adil. Terjadi pergerakan / perputaran saja sudah banyak yang mengeluh dunia itu tidak adil. Ya! Inilah memang esensi kehidupan. Adanya perputaran, pergerakan, perubahan ataupun rotasi.
Jika saja semua yang ada itu diam tak ada perputaran, apakah kita sanggup untuk bisa menahan beban masalah yang sedang dialami? Apakah kita mampu pertanggungjawabkan kebahagiaan yang kita miliki? Jawabannya jelas belum tentu.
Andai saat ini kita sedang ada dalam sebuah masalah atau cobaan, optimislah bahwa itu akan selesai dan terlewati. Faktanya adalah kedua ―masalah dan cobaan― itu sulit, tetapi mungkin untuk dilewati. Anggaplah Tuhan sedang menambah kesabaran jika kita anggap itu cobaan. Atau bayangkan Tuhan sedang mengajari kita menyelesaikan sesuatu jika kita anggap itu sebuah masalah.
Serta jangan lupa! Tuhan tak pernah memutuskan ikatan dengan makhluknya seketika Dia dilupakan. Pernah membayangkan kalau saja Dia langsung memutuskan ikatan ketika kita melupakannya? Kita sudah pasti mati. Tapi Dia masih mencintai kita dengan hanya mengurangi sedikit dari hak kita untuk setiap harinya sampai kita akhirnya mampu “membuka” mata. Artinya, akan selalu ada kesempatan kedua, ketiga hingga seterusnya sampai Tuhan benar-benar muak.
Untuk itu, bersyukurlah selalu atas hal terkecil yang kita terima setiap harinya, dengan begitu kita akan bisa menjadi lebih baik lagi. Bersyukurlah karena Tuhan selalu sayang pada kita. Buka mata! Lihat sekitar! Jika kita tersandung, pastikan jangan sampai terperosok. Pasti ada orang selain kita yang pernah merasakan kondisi sama. Untuk itu bangkitlah! Tatap dunia! Pastikan kita pantas untuk membuktikan bahwa kita bisa jadi yang terbaik dan bangkit.
Karena Tuhan pasti memberikan kesempatan-kesempatan berikutnya untuk kita, maka kita juga sebagai makhluk harus bisa memberikan kesempatan itu pada diri kita pribadi terlebih pada orang lain. J
Semangat!!!
Labels:
Hidup,
Kesempatan,
Kisah,
Menata hati,
Motivasi,
Re-born
Langganan:
Postingan (Atom)
