Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Maret 2011

Sebuah Kisah (#4)

Aku memutar badan dan pandanganku secara perlahan searah jarum jam sambil mengamati setiap lekukan ruangan ini. Dindingnya memang masih sangat baru, tapi di baliknya ada satu sosok bisu yang menjadi saksi ceritaku dengan seisi ruangan ini. Ruangan ini makin hangat seketika mentari mulai melawan rimbunnya dedaunan di sisi timur. Kaca-kaca itu pernah jadi sosok penjaga emosiku untuk tidak meninggalkan ruangan sebelum waktunya tiba. Kaca-kaca itu pula yang menjadi kanvas untuk telapak tanganku di setiap paginya.
Pandanganku sampai di sudut ruangan dengan singgasana yang anggun dan agung untuk seseorang yang menjadi panutanku. Singgasana itu lengkap dengan bunga plastik dan beberapa alat tulis seadanya. Sebelah singgasana itu, sebidang papan tulis putih penuh coreng-moreng ucapan Darwin telah memberiku banyak hal. Satu sosok hangat yang setia menaburkan benih bekal masa mendatang tanpa takut coreng-moreng.
Akhirnya pandanganku tertuju pada singgasana yang menjadi kebanggaanku. Namun tak kusangka duduk di sana seseorang yang sangat aku kenal dan entah sudah berapa lama dia ada di situ. Pandangannya yang lembut membuatku sedikit malu untuk mengakui kelemahanku di depan lemari usang tadi. Bibirnya mengembangkan senyum yang setiap hari kutemui. Senyum tulus yang membuatku harus mengakui kelemahanku tadi di depannya. Tangan kananku yang kaku memegang buku biru itu kini terkulai tak ada daya.
Dia berdiri secara perlahan diikuti deritan singgasana yang biasa kupakai. Lengannya merapikan jilbab langit yang dia kenakan pagi itu. Tatapannya mulai menantang mataku dengan hiasan lesung pipit di pipi. Tanpa pikir panjang dia pun berjalan ke arahku dengan perasaan tanpa ragu. High heelsnya kini mengeluarkan irama yang membunuh keheningan pagi. Tak butuh waktu lama, kini dia berada sekitar 30cm di hadapanku masih dengan senyumnya yang tulus. Lengannya menggamit lenganku dan berada di sampingku. Perlahan kakinya melangkah yang serta merta diikuti langkahku. Sejenak dia menatap wajahku dan tersenyum, sambil melangkah bibirnya mengucapkan beberapa kalimat yang tak asing juga untuk telingaku.
Mentari memang tak begitu terik menyapa
Pun dengan kehangatan tak muncul ketika dicari
Langkah kaki yang kau kirim
kini membawaku melintasi
berjuta mimpi
Dalam setiap detiknya ada
kehangatan terbalut sejuknya embun
untuk itu kan kuucapkan
“Terima Kasih!”

#END OF 1st CHAPTER#


Alhamdulillah akhirnya chapter pertama dari satu kisah perjalanan ceritaa ini telah selesai. Aku ucapkan terima kasih untuk teman-teman yang mengikutinya dari bagian satu. Insyaallah cerita ini masih akan berlanjut menuju chapter kedua yang masih berada di dapur editing. Aku harap teman-teman akan tetap setia untuk mengikutinya.

jika ada masukan atau saran membangun, silakan sampaikan di kolom komentar. 
salam karya! 

Senin, 14 Maret 2011

Sebuah Kisah (#3)


Semuanya masih tetap dingin dan tak ada kehangatan terpancar dari apa pun yang aku pandangi. Jarum jam menunjuk angka  enam dan angka dua belas. Sudah cukup pagi menurutku untuk memulai kegiatan. Tapi ruangan ini masih tetap hening tanpa hiruk pikuk seperti biasanya.


Arah jam sebelasku berdiri kulihat lemari usang penuh dengan buku yang entah milik siapa saja. Aku ingat, lemari itulah yang selama ini memberikan berbagai bekal untukku hingga sampai pada hari ini. Tanpa pikir panjang, aku berjalan ke arah lemari usang tersebut berharap apa yang sempat aku titipkan masih tetap di tempatnya. Ada binar cahaya mentari yang masuk melalui celah dedaunan seolah hendak memberi pertolongan dalam pencarian. Samar-samar kulihat satu buku berwarna biru yang sangat aku  kenal. Semakin jelas kulihat bahwa buku itu masih tetap di tempat yang sama seperti terakhir aku melihatnya.


“Tak se-ke-dar ta-ri-an je-ma-ri,” begitu mulutku menggumam ejaan yang tertulis di sampul depannya.


Tangan kananku berusaha menggeser kaca penutup itu dengan agak susah payah. Tanpa sadar tangan kiriku mulai membatu sekuat tenaga yang kupunya pagi itu. Tak butuh waktu lama untuk membukanya hingga akhirnya kuraih buku bersampul biru nan usang itu. Di sudut kanan bawah sampul depannya terukir huruf “S” dan “A”yang tercermin menjadi huruf “A” dan “Z” yang menyerupai dua huruf sebelumnya.


“Lama tak bersua kawanku,” bisikku lirih saat membuka sampulnya.


Kutemukan beberapa baris kalimat yang direkam jelas ingatanku dan masih sering sering kupakai sewaktu-waktu, di halaman yang kini mengahadap wajahku. Kalimat yang selalu menjadi pengantar pagi di setiap mataku memandang sekitar. Kalimat yang memberikan sejumput semangat untuk melalui setiap harinya. Kalimat yang membasuh lelah jiwaku di pagi hari. Kalimat yang masih berbunyi sama sampai saat ini aku menggunakannya. Perlahan namun pasti bibirku mulai menggumamkan kalimat-kalimat tersebut.
Sapa embun pagi yang datang
bawakan mimpi
Kembarakan harimu dengan langkah-langkah kaki
yang iringi sejuta hari
Untuk itu kan kuucapkan
“Selamat pagi!”
Pandanganku sedikit kabur, ada yang gumpalan transparan di kantung mataku yang tak terbendung dan akhirnya meluncur perlahan. Kuseka pipiku perlahan sambil sedikit terisak, dari sini semuanya berawal dan entah akan sampai kapan cerita ini berlanjut.
Tanpa terasa jarum jam menunjuk angka enam dan tiga, sedikit demi sedikit suasana hangat yang dinanti kian merebak. Lemari usang di hadapanku kian memancarkan setiap sudutnya dengan jelas. Coretan kreatif anak-anak muda mulai yang menghiasi setiap sisinya, makin menegaskan bahwa ini memang sebuah lemari usang. Tak banyak bercerita aku dengan lemari ini, namun titipan yang sudah sejak sekian lama aku simpan menyiratkan banyak cerita bersamanya.
“Terima kasih sudah menjaga kepingan ceritaku di ruangan ini,” bisikku pada satu sudut lemari itu.

Sabtu, 12 Maret 2011

Keep Smile...! (Tetap Tersenyum)

Mr. Smile
Lihat sepatu yang ada di foto?
     Itu adalah satu dari sekian banyak barang yang sangat berarti bagiku. Tanpa dia, apalah jadina diri ini? Jangankan berlari, mungkin berjalan saja aku tak sanggup. Bukan ingin hiperbola tapi memang diri ini memiliki batasan. Bayangkan jika aku harus bertelangjang kaki kemana-mana, entah bakal jadi seperti apa telapak kaki ini jadinya.
     Dia kutemukan sekitar 5 tahun yang lalu tepatnya di tahun 2006. Mejeng dengan harga yang aduhai menggoda karena pada saat itu memang sedang "BIG SALE". Tanpa pikir panjang langsung kudekati dia hendak memandang dari dekat siapa tau memang kami cocok untuk bersama. ^^
    Saat itu dia begitu cantik, masih putih dan sangat mulus. Tapi lihatlah sekarang, dia sudah renta untuk umur sepatu yang notabene selalu dipakai kemana pun kecuali di rumah. Tampilannya yang kian kusam dan buluk itu memang sudah menjadi pandangan biasa bagiku, bagian bawahnya pun kini sudah ampir jebol. Jika kami harus menerjang hujan, tak jarang dia meminum banyak genangan air di jalan.
     Tapi selama jalan bareng dengannya, tak pernah sekali pun kulihat dirinya bersedih. Selama kami jalan, dia selalu tersenyum ketika menahan berat tubuhku, meminum genangan air atau dihinggapi debu jalanan. Bahkan ketika sekarang sudah hampir jebol, dia masih tetap tersenyum! 
Dia memang hanya sepatu usang yang renta, tapi emote yang tersemat padanya selalu mengingatkanku bahwa masalah bisa kita hadapi dengan senyuman.
   Saatnya kita memulai untuk menghadapi setiap permasalahan dengan tenang dan tetap tersenyum. Sesungguhnya Tuhan tau apa yang terbaik bagi kita. 
Karena rencana Tuhan selalu indah dan rencana kita hanya bagian kecil dari rencana-Nya.
     Ada satu quote yang selalu aku pegang sampai saat ini :
AKU BAGIAN DARI RENCANA-MU 

Rabu, 09 Maret 2011

Sebuah Kisah (#2)

Kutengadahkan wajahku pelan ke arah garuda yang dengan setia tetap menjaga ruangan ini, menemani sepasang singgasana dan sosok hangatku. Dia kaku namun tidak membatu, sayapnya yang dibentang lebar memberi isyarat bahwa dia selalu siap sedia dan begitu tangguh. Perisai yang melindungi jantungnya menandakan bahwa dia berani menahan serangan apa pun untuk melindungi bagian terpenting. Kaki kuatnya mencengkram falsafah yang menjadikannya paling bijak seantero ruangan ini. Setiap harinya dia mengingatkanku untuk selalu menjunjung rasa hormat pada seisi ruangan ini.

Seraya membalikkan badan memunggunginya hatiku bergumam, “bhineka tunggal ika-mu menyadarkanku bahwa aku hanya bagian kecil dari seantero negeri ini, Bung.”


Kulihat jarum jam menunjukan pukul enam kurang seperempat dan pagi masih enggan berikan hangatnya. Rimbun dedaunan di sisi timur masih ingin memberikan kesempatan pada angin dingin kota ini menyapa setiap yang dijumpainya. Kristal air di sudut atas kaca ruanganku berada masih tak mau pergi meski cahaya mentari perlahan mengusir dengan lembut. Tepat di sudut atas kaca arah pukul sembilanku berdiri, tersirat satu jejak manusia berbentuk telapak tangan kanan yang mungil untuk ukuran seumurku. Jejak yangmembuat rasa penasaranku bangun dan ingin mencari tahu siapa gerangan pemiliknya. Sebuah gambaran telapak tangan dengan jari-jemari yang panjang namun tetap mungil.


Tak jauh dari  kaca tempat jejak itu terpatri, ada sepasang singgasana besar nan anggun milik seorang bijak di ruangan ini setiap jamnya. Seseorang yang cukup bijak untuk menceritakan kemegahan dunia dan belahan negeri lain beserta isinya. Seseorang yang cukup tangguh untuk menceritakan kisah heroik di setiap sudut kota tempat perjuangan. Seseorang yang cukup wibawa untuk menceritakan betapa indahnya pegangan hati setiap orang di bumi ini. Seseorang yang selalu kuhormati ketika dia membeberkan setiap kata dalam balutan pengetahuan. Singgasana inilah yang akhirnya memberikanku banyak bekal untuk berkelana menyambut kerasnya bola dunia.


Maka pada singgasana inilah aku berucap, “tanpa kenyamanan yang kau berikan, sudah pasti seseorang itu selalu gusar melihat waktu di tiap detiknya.”
     
      Jarum jam hanya bergeser satu angka saja dari tempat sebelumnya kulihat. Kembali aku menatap menembus kaca ruangan tempatku berdiri. Semuanya masih tetap sama, jalanan masih lengang hanya sesekali kulihat seorang pria paruh baya mencoba mengayuh pedal dengan sisa tenaganya. Tak ada kehangatan dari sekitarnya, mentari masih enggan menyeruak dari balik dedaunan rimbun itu. Mataku mengikuti kemana arah pria paruh baya itu mengayuh hingga menemukan sosok wanita yang menggendong bayi kecil dalam dekapannya. Tangan kanannya memegang tas besar seolah memuat semua perlengkapan untuk dia dan bayinya. Tak sedikit pun kehangatan terpancar dari mentari pagi untuk bayi kecil itu, semuanya masih tetap dingin. Kualihkan pandanganku pada deretan pagar tembok setinggi pinggang orang dewasa yang mulai kusam dimakan usia dan kreatifitas anak muda.

Selasa, 08 Maret 2011

Sebuah Kisah


Cahaya mentari mencoba menembus rimbunnya dedaunan yang melindungi ruangan ku berada di sisi timur. Masih sepi, bangku-bangku masih kosong, gerbang masih tak terjaga, ruang guru hanya beriramakan jarum jam yang menarik waktu, halaman upacara lengang orang namun berhiaskan ranting pohon. Kelas ini masih sunyi hanya ada aku dan papan tulis yang saling berpandangan seolah berdialog tentang pagi ini. Pagi yang dingin dan nyaris menusuk sampai ke sumsum paling dalam jika sang mentari tak berusaha melawan. Ini memang masih pagi, bahkan terlalu pagi untuk memulai pelajaran sekolah seperti biasa. Entah apa yang kupikirkan hingga aku niat untuk menyeruak dari keheningan hari ini. Tak ada hal yang begitu penting hingga mengharuskan aku untuk segera duduk di bangku seperti biasanya.

Tertunduk sejenak menatap meja yang sering menjadikan dirinya sandaran untukku menulis selama beberapa bulan. Aku yang tak pernah beranjak dari sepasang singgasanaku ini seolah sudah memiliki suatu ikatan kuat terhadapnya.

Termenung untuk beberapa saat hingga akhirnya mulutku bergumam, “terima kasih untuk beberapa waktu terakhir itu.”


Seraya mengangkat wajah dan kembali menatap papan tulis yang coreng-moreng oleh sisa ucapan Darwin kemarin sore, kembali aku termenung dan menatap lekat dengan tatapan bersahabat hendak mengajak berbicara. Ada perasaan aneh saat kupandangi papan tulis itu lekat-lekat. Sebuah perasaan hangat yang menyerupai sosok keibuan yang entah dari mana datangnya. Perlahan namun pasti, aku bangkit dari singgasanaku dan berjalan perlahan menggapai sosok hangat tersebut. Semakin dekat aku padanya semakin jelas pula dari mana dia berasal.


Cahaya keemasan yang sedikit demi sedikit menampakkan diri itu kini membuatku sadar dari mana sosok hangat itu muncul. Sosok itu tetap sebidang papan tulis putih yang telah coreng-moreng. Namun goresan yang membekas di setiap bagiannya menjelaskan kenapa dia bisa menjadi sosok hangat itu. Kuarahkan telapak tanganku tepat pada satu area yang masih putih tanpa torehan noda. Kurasakan hangatnya hingga aku perlahan memejamkan kedua mataku seolah mencoba memahami apa yang ingin diucapkannya.


Perlahan kubuka kembali kedua indera penglihatanku diikuti sebuah senyum yang terukir dengan satu kalimat terucap pelan, “terima kasih untuk semua wejangan sejarah dari belahan dunia yang  tak terjangkau kaki serta tanganku.”

# bersambung