Jumat, 06 Mei 2011

Ibarat Jarum Dalam Jerami

mengais
Hari ini adalah pertama kali jemari menjejak di keyboard setelah "hibernasi" selama satu bulan lamanya. Proses tidur ini terjadi setelah kepulanganku dari negeri para dewa dimana seribu pura berada, BALI. Cukup kesulitan memang karena seminggu berada negeri itu membuatku mulai kehilangan mood, baik menulis maupun memotret. Rasanya aku kehilangan semua sense untuk dua hal tersebut hingga terkadang aku merasa kehilangan semuanya.

Ketika mulai kesal menghadapi semua kekosongan, jemari yang mulai kesal akhirnya menggeliat dan mencoba berontak. Dalam kelelapan sense of art yang ada, mataku mulai sinergi dengan segala indera yang ada untuk mencoba kembali bangun dan mengurai karya baik dalam kata maupun gambar.

Karya pertama yang mewakili tidur panjang itu adalah foto yang terlampir di sebelah kiri tulisan ini. Foto nelayan di Muara Angke ini memang sangat mendasari tulisan pengantar C O M E B A C K setelah tidur panjang. Potret nelayan ini sebenarnya begitu khas dan mewakili pencarian sense of art yang sempat hilang sebulan lalu bagai nelayan mencari ikan di keruh dan hitam pekatnya laut utara Jakarta.

"meskipun pencarian sense of art itu susah, bagai mencari jarum di tumpukan jerami ataupun mencari ikan di pekat laut jakarta, aku harus tetap menarik keluar makhluk langka itu"

Jumat, 01 April 2011

Surat Untuk Tuhan


tik . . . tok . . . tik . . . tok . . . tik . . . tok . . .

Pagi ini masih teramat dingin untuk membuka mata menerima dunia. Kamarku memang terang benderang dihiasi sinar neon. Tapi, di luar sana aku yakin masih terlalu gelap untuk melakukan perjalanan. Kuraih jam tangan yang biasa kusimpan di bawah bantalku baru menunjukkan jam empat pagi. Caranya menyeret waktu terkesan kasar di telingaku karena dia memang jam yang sudah uzur.

Mataku baru saja terpejam dua jam lalu dan kini harus terbuka dengan perasaan sesak tak karuan. Nafasku memburu, jantungku derdetak terlalu kencang tak wajar dan perasaanku sedikit cemas, kalut, takut serta sedikit tak percaya. Selama ini aku selalu terbebas dari gangguan mimpi buruk dalam tidurku, karena selalu ada mantra yang kubaca sebelum menjelang memejamkan mata.

Pagi ini, dengan penuh kuasa akhirnya Dia memberikan mimpi padaku tentang seseorang dan suatu hal. Aku sungguh dibuat-Nya terkejut seolah terkena sengatan listrik ringan. Padahal dua jam sebelumnya aku baru saja mengakui rasa bersalahku terhadap seseorang dalam satu pengakuan setelah Qiyamul Lail. Ada tangisan yang meluncur perlahan menghangatkan pipi.

Keterkejutanku kini memaksa tangan kananku menggapai jantung yang sedang berdetak cepat tak karuan. Dengan perasaan yang sedikit sesak, akhirnya aku beranikan diri mengingat mimpi, sosok serta hal sempat membuatku terkejut. Pikiran dan mataku baru bisa sejalan setelah nafasku mulai kuatur ulang secara perhalan.

Pandanganku menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendu seolah terangnya kamarku kini kian temaram. Kupalingkan wajah ke arah kanan menatap satu potret tentang seseorang dan parasnya yang hiasi meja belajarku. Perlu waktu agak lama untuk duduk tegak di atas tempat tidurku ini. Karena pikiranku masih tak karuan dan mengaduk perasaan.

Kupaksakan badanku untuk berdiri dan melangkah ke kamar mandi dengan gontai. Kuayun gayung mengumpulkan air yang masih sangat dingin. Perlahan bulir-bulir air itu menyentuh wajahku memberi rasa sejuk yang sedikit menenangkan. Wajahku terasa segar, badanku kini seikit tegak dan pikiranku mulai terjaga sepenuhnya siap membuktikan mimpi itu.

Jemariku mulai bermain di atas qwerty laptopku. Pikiranku mulai lincah memburu jalan tercepat menuju pembuktian mimpiku. Mouse di tangan kananku kini mulai menjelajahi aplikasi laptopku hingga kini sudah jauh meninggalkan kamarku dan berada di dunia maya. Jari-jemariku mulai menuju satu jejaring terbesar saat ini karena itulah yang bisa membuktikan mimpiku.

Dadaku mulai bergemuruh berharap apa yang menjadi mimpiku itu tak nyata. Nafasku kini tak selancar ketika wajahku dibasuh air pagi hari. Mataku lari kesana-kemari mencoba melihat setiap bagian layar laptopku hingga terhenti di satu halaman yang ternyata history-nya telah terhapus. Lenganku mulai lunglai dan lemas, pikiranku berlari mencari kembali ragam tanya yang pernah kututup rapat. Aku cuma bisa bertanya dalam hati atas apa yang terjadi pagi ini. 

Tapi yang pasti, ini adalah kali pertama aku terbangun dari mimpi buruk dan ternyata itu terjadi.

pesawat menuju Tuhan

Tuhan, aku harap keluh dan gundah yang kutulis ini sampai ke hadapan-Mu. Inginku, Engkau menenangkan hati ini sesegera mungkin dan membuatku lebih tegar lagi bahkan lebih tegar dari batu karang sekali pun.

Ruang Hati, 1 April 2011

Hamba-Mu

Selasa, 29 Maret 2011

Kabur Bukan Hilang

blurism
Sore hari, semuanya menjadi hiruk pikuk. Penuh sesak tak bercelah. Jalan raya kota ini menyempit seketika tanpa peringatan. Peluit melengking di kiri kanan jalan memberi  arahan bagi yang hendak menepi. Klakson saling bersahutan tak karuan penuh ketidaksabaran. Mulut pun tak mau kalah berirama, mereka teriak dengan berbagai ekspresi. Marah dan kesal seolah sudah biasa.

Kota ini kian sendu, setiap sudutnya kini berganti warna. Ufuk barat mulai menampilkan pesona senja nan rupawan. Sementara di timur gelap mulai menyandera ceria kota secara perlahan. Satu persatu kendaraan roda empat mulai menyalakan head lamp. Karena sepasang mata tak awas dan temaramnya lampu jalan tak lebih dari bantuan biasa saja.

Lampu rumah dan pertokoan mulai berlomba menjadi penerang. Tak hanya berwarna kuning keemasan atau neon putih terang. Lampu temaram pun masih cukup menawan. Setidaknya masih mampu menahan mereka yang berpulang untuk singgah menjelajah malam. Gemerlap pertokoan kawasan Merdeka paling banyak menjaring kawanan.

Tatapanku tertuju pada jembatan penyebrangan nan usang. Dia masih tetap berdiri kokoh bersedia melayani siapa pun dan kapan pun. Meski banyak yang menantang laju kendaraan tanpa ikuti aturan. Jembatan itu yang selalu membuatku merasa bahwa kota in terlihat anggun meski telah malam. 

Kota ini memang suda renta tak berdaya. Banyak "budaya" tergadai demi kepuasan semata. Tak banyak keramahan tersisa pun dengan penghuninya. Perantau mendominasi, sementara atau lama sekali. Malam makin larut dan umur kota ini pun kian bertambah. Dia semakin keriput dan menua. Tak ada anti-aging yang mampu menahan proses rentanya.


Ya! 
Bandung kian renta. 
Tak berdaya dan semakin tua. 
Di telan gelap semua menjadi kabur, tapi tak hilang. 
Dia masih tetap menawan. 
Dia masih tetap Bandung!

suatu prolog untuk Bandung Yang Kian Renta

Rabu, 23 Maret 2011

Something Called "Home"

Bangunan itu tidak megah seperti deretan hunian di pinggir kota dengan bandrol selangit dan arsitektur menawan dan indah. Dia juga tak bisa membanggakan tunggangan si empunya karena tak ada halaman peristirahatan untuknya.  Tersamar begitu rapi dari balik sebuah taman peristirahatan para pahlawan negeri. 

Tak ada yang sangat spesial memang ketika aku melihatnya secara sekilas dan kasat mata. Penglihatanku hanya menangkap sebuah bangunan yang berukuran kecil dengan pagar besi setinggi pundak. Teras depannya begitu mungil dan terdiri dari beberapa ubin saja. Tak ada hal mewah di sana, semua serba sederhana dan apa adanya. Tak ada yang berlebih ataupun dilebih-lebihkan.


Seketika pintu terbuka baru dapat kulihat keistimewaan, kemegahan dan kehangatan yang ada. Terlindung begitu rapat sehingga mereka pernah memasuki baru bisa merasakannya. Takjub yang dirasa ketika pandanganku dipenuhi beberapa tumpukan buku. Deretan judulnya beragam, dari buku agama hingga ilmu pasti, dari buku motivasi hingga tumpukan fiksi. Semuanya berbaur tanpa perbedaan dan sekat yang tersemat berdasar kategori.

Satu sofa usang tergolek lemah begitu saja namun masih siap untuk menahan beban siapa saja. Masih ada perasaan hangat di dalamnya, hingga tetap bisa memberi nyaman bagi mereka yang hendak bersandar. Televisi tua terbujur kaku manatap ke arahku. Kelu hanya membisu. Tak satu pun warna yang mampu dipancarkan. Di arah kiriku berbaris tiga meja belajar yang menjadi  kawan setia si pemilik. Mungkin juga milik adik-adiknya. Masih tetap berhias tumpukan buku di atasnya.

Bagi si pemilik, bangunan ini tak hanya sekedar rumah biasa. Rumah ini ibarat diary tak bernoda, dia tak banyak bertuliskan jalan cerita namun menjadi saksi nyata perjalanan pemiliknya. Rumah ini juga sebuah penjaga mimpi serta pelepas penat perjuangan menggapainya. Berpuluh tahun sudah berbagai cerita disaksikan si rumah ketika pemiliknya mengadu. Teramat sangat berat untuk ditinggalkan karena menyimpan banyak kenangan. Namun semua harus berjalan, rumah ini harus bisa menerima kepergian pemillik setianya pun sebaliknya.
This is what she called "HOME"
Selamat tinggal, rumah! Meskipun kita baru ketemu dan bercengkrama dalam 14 jam, namun aku begitu nyaman. Rasanya aku bakal merindukanmu, juga lantun adzan di sampingmu. ^^

NB : Ini merupakan satu cerita tentang rumah yang pernah di tempati seseorang. Untuk sang pemilik, nikmatilah waktu-waktu terakhir kalinya ini. ^^

Jumat, 18 Maret 2011

Di Balik Hujan

Melancholy 
Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi di balik awan hitam.
Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini. 
Menanti seperti pelangi setia menunggu hujan reda.



Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember




[efek rumah kaca - desember]



Alunan lirik milik salah satu band indie itu kian sering mengalun menghiasi tiap dinding kamarku beberapa hari terakhir ini. Tiap nadanya kini semakin jelas terngiang dalam ingatanku dengan berbagai kenangan yang terjadi di beberapa hari terakhir. Mataku perlahan terpejam mengikuti irama lagu yang dipantulkan oleh dinding-dinding kamar. Imajinasiku memainkan cuplikan not balok yang melayang pelan di sekitarku. Begitu anggun hingga aku memasuki dunia yang bukan milikku. Sebuah dunia yang tak di belenggu oleh dinding pembatas, begitu luas hingga aku bisa melihat tak ada ujungnya.

Suaranya semakin pelan dan bergantikan score yang menjadi soundtrack satu film animasi impor dari negeri Paman Sam. Forbidden Friendship karya John Powell ini membuat pikiranku perlahan terjaga dari dunia imajinasiku, dunia yang bukan milikku. Perlahan aku merasakan tubuh menghilang dari dunia itu seperti melalui sebuah gerbang antar dimensi yang kini membawaku kembali pada kursiku. Penglihatanku kini tertuju pada kalender kaku dari kayu.

Seminggu sudah aku mengurung diri di kamar hanya berkawankan satu laptop, kamera, jurnal perjalanan dan tentunya segelas teh hangat. Aku menatap ke luar jendela menembus kerangkeng transparan yang bermandikan bulir-bulir air hujan. Tampak jalanan sudah kian sepi oleh kendaraan yang lalu lalang menghindari serbuan air demi memperpanjang nafas untuk hari esok. Kini yang kulihat hanya derasnya air yang turun dari langit menyirami setiap sudut penglihatanku.

Kusandarkan kembali badanku di kursi malas yang setia menemani dalam tujuh hari terakhir ini. Tangan kananku masih memainkan mouse ke sembarang arah, sedangkan lengan kiriku jatuh lunglai tak bertenaga hingga mampu kurasakan semakin kaku di ujungnya. Mataku masih tak lepas dari layar monitor redup bergambarkan satu cangkir teh tak jauh dari kaca jendela.

Batinku berbisik, adakah dia juga sedang memperhatikan hujan yang sama? Hujan yang pernah menjadi jembatan kata bagi kami berdua. Hujan yang pernah kuberitahukan padanya bahwa tentang kenyamanan ketika berada di bawahnya. Hujan yang selalu aku banggakan padanya.

Hujan yang sedang kutatap ini memang sama seperti hujan lainnya. Hujan yang berkomposisikan bulir air tak dapat ditahan oleh pembawanya. Tapi bagiku, hujan ini bukan hanya sekedar buliran air seperti kebanyakan. Lewatnyalah aku sering bercerita, marah, kesal, senang, kecewa ataupun takut. Jika hujan tiba, aku selalu memandanginya dengan penuh harap supaya bisa mendapat kenyamanan darinya seperti saat-saat sebelumnya.

Hari ini aku masih memandangi luar jendelaku, merasakan setiap denyut pembuluh ini begitu tak kuat untuk mencurahkan segala hal yang selama seminggu ini dirasakan begitu berat. Pikiran dan segala perasaan dengan prasangka yang mulai tak karuan ini ingin sekali aku keluarkan. Begitu kuatnya hingga kakiku mulai menapak kuat pada lantai kamar memberi sinyal pada otot kaki dan tulangnya untuk berdiri menopang berat tubuhku. Punggung yang tadinya nyaman, kini tak ingin lagi bersandar pada kursi malas. Dengan tolakan yang lumayan dari lenganku, kini pantat dan punggungku terangkat mengikuti irama otot dan tulang kaki untuk lurus tegak seirama. Tahta teratas tubuh ini juga tak mau kalah dan memberi komando pada seluruh syaraf untuk berdiri tegak.

Tubuhku memutar berlawanan arah jarum jam dan langsung berjalan pelan menuju pintu untuk keluar dari penjara pikiran ini. Aku menyusuri lorong kecil ke arah kanan kamarku untuk menuju tangga. Kurentangkan tanganku hingga dindingnya dapat kurasakan oleh telapaknya. Kulewati berbagai foto berbingkai yang terpajang kaku di dinding itu hingga kini tepat berada di depan tangga. Kulayangkan pandangan ke setiap anak tangganya diikuti langkah kaki untuk menaikinya, satu demi satu. Semakin atas kurasakan udara semakin dingin dan dapat kulihat rembesan air di pintu terakhir yang kutuju. Tepalak kakiku mulai mengenali air yang menggenang dan dingin yang dibawanya. Tanganku meraih pegangan pintu dan memutarnya perlahan sehingga aku bisa membebaskan pikiranku sedikit demi sedikit.

Celah di depanku kini semakin melebar mempertemukanku kembali dengan dingin dan hujan yang aku kenal. Aku melangkah melewati batas manusia normal memilih untuk menjadi sosok bertemankan hujan. Setelah merasakan dingin yang biasanya, kini aku berani melaju lebih jauh ke tengah lantai paling atas di rumahku. Tubuhku kini kuyup di bawah riuh dan ramainya air hujan, bajuku mulai layu menahan berat air yang begitu banyak.

Kuangkat kedua lenganku setinggi bahu dan kurentangkan, kepalaku mulai tengadah menantang datangnya bulir air. Mata mulai terpejam dan aku serasa berada di dunia yang berbeda lagi, dunia yang sudah jelas bukan milikku. Kini aku menenangkan diri di bawah tarian hujan, mengistirahatkan penglihatan, menormalkan pernafasan, merasakan seluruh udara membawa serta pikiran dan aura negatif selagi jantungku memompa darah dan mengalirkan energi positif ke dalam pikiranku.

Tubuh ini mulai kembali tenang, segala pikiran yang membuat setiap oragan dan syaraf menjadi gelisah kini telah lenyap dibawa sang hujan. Mataku perlahan terang-terangan terbuka dan melawan sang air. Lenganku tak lagi terbuka seperti sebelumnya, kini ia tengadah di depan dada seperti posisi orang berdo’a.

I across the universe